Postingan

Beberapa warga yang terkena dampak penyakit

Hingga saat ini, kasus diare masih terus terjadi. Sri Handayani, pengungsi Blok 3 di Petobo, Palu Selatan, mengatakan, dia dan dua cucunya yang berusia 6 dan 2 tahun menderita diare pada awal pekan lalu. Namun, karena tidak terlalu parah, Sri dan dua cucunya hanya menjalani rawat jalan setelah mendapatkan pengobatan dari pos kesehatan. “Biar sakitnya tidak makin parah, saya bawa dua cucu meninggalkan pengungsian. Kami menginap di rumah mertua,” kata Sri Handayani, 23 November 2018. Demikian juga yang dialami Putri yang berusia 1 tahun 7 bulan. Menurut ibunya, Ilon, anaknya itu diare hebat setelah sepekan menghuni pengungsian di Petobo. “Anak saya dirawat tiga hari,” kata Ilon. Ilon menduga kondisi pengungsian yang kotor menjadi biang anak-anak di pengungsian mudah terkena diare dan muntaber. Kondisi toilet misalnya, kata Ilon, sering berbau menyengat karena kurangnya air untuk menyiram kotoran. Di sisi lain, air dari toilet sering meluber mendekati tenda pengungs...

Berita terbaru kota palu, sigi dan donggala Setelah terkena bencana 2 bulan lalu

Gambar
Palu- warga di sulawesi tengah yang terdampak bencana gempa, rentan menderita berbagai penyakit. hal itu berkaitan dengan kondisi pengungsian yang buruk. data dari kementrian kesehatan RI menunjukan pada 4 oktober-4 november 2018, ISPA menempati penyakit tertinggi yakni sebanyak 9.844 kasus, di susul Diare akut 4.527 kasus. dan Hipertensi 4.197 kasus. Jumlah itu tersebar di Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi.  Rinciannya penderita ISPA diKota Palu sebanyak 3.670 kasus, Diare akut 1.890 kasus dan Hipertensi 1716 kasus.  Di Kabupaten Donggala penderita ISPA mencapai 2.657 kasus, Diare 1.618 kasus dan Hipertensi 1.064 kasus. sedangkan Kabupaten Sigi 3.517 kasus  ISPA, 1.019 kasus Diare akut dan Hipertensi 1.417 kasus.